Jumat, 29 Mei 2009

SBY-Berbudi.. nomor urut 2… pertanda Jelmaan Orde baru kah ?

Tanpa disadari atau disengaja, jumlah pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang terdiri dari 3 pasangan, kurang lebih sama dengan kondisi pada waktu orde baru. Dimana pada saat itu, pemerintahan orde baru dibawah rezim Soeharto, melakukan beberapa strategi untuk melumpuhkan lawan politik, dengan menggabungkan secara paksa partai-partai lain selain Golongan karya kedalam 2 kelompok partai. Kelompok islam digabungkan kedalam Partai Persatuan Pembangunan dan partai non islam dan Nasionalis digabungkan kedalam Partai Demokrasi Indonesia. Pemaksaan penggabungan partai itu dilakukan dengan menggunakan konstitusi, yaitu perundang-undangan. Tujuannya tentu saja untuk melemahkan lawan politik, sehingga akhirnya Soeharto dapat berkuasa selama 32 tahun.

Nomor urut 2 partai dan 1 golongan karya itu seperti kita ketahui adalah sebagai berikut, Partai Persatuan Pembangunan menempati urutan nomor 1, Golongan karya menempati nomor urut 2 dan Partai Demokrat Indonesia menempati nomor urut tiga. Tentu saja penempatan nomor urut ini memiliki nilai strategis tertentu bagi golongan karya. Dan tentu saja dengan kekuasaan yang luar biasa pada saat itu, Golongan karya dapat dengan mudah menentukan pilihannya untuk mengambil nomor urut 2 ini. Walaupun mungkin dalam prosesnya juga dilakukan dengan cara-cara yang konstitusional yang penuh dengan rekayasa.

Golongan karya, yang pada saat itu merupakan kepanjangan tangan dari kekuasaan Orde baru, bersama-sama dengan jalur A dan Jalur B, berusaha mempreteli 2 kekuatan Partai politik lainnya dijalur Legislatif.

Dan mungkin juga sebagai pertanda dari YANG KUASA, bahwa pasangan SBY-Berbudi ini benar-benar penjelmaan dari orde baru. Mulai dari langkah-langkah politik yang dilakukan pada saat pemenangan dalam pemilu, sampai politik pencitraan. Kalau pada masa orde baru, dilakukan doktrinisasi agar masyarakat memuja-muja Soeharto. Mulai dari penayangan secara terus menerus film serangan fajar menceritakan tentang perjuangan Soeharto dalam melakukan penyerangan atas Yogyakarta selama satu jam, penayangan film G30S/PKI juga dilakukan, selain untuk menakut-takuti lawan politik, hal ini juga dilakukan untuk meningkatkan pencitraan diri Soeharto sebagai pahlawan.

Kemudian gelar Bapak Pembangunan juga ditiupkan untuk menambah nilai Soeharto dimata masyarakat, sehingga dengan mudah dapat dilakukan pengguliran isu agar tercipta suatu pendapat bahwa memang Soehartolah satu-satunya orang yang dapat menjadi pemimpin dinegeri ini. Tokoh lain tidak diberi kesempatan sama sekali.

Kalau di asosiasikan, nampaknya apa yang terjadi saat ini, dimana SBY dengan Partai Demokrat beserta kelompok koalisi yang bisa sejajarkan dengan SEKBER Golkar, Indikasi kecurangan pemilu sistematik dan masiv juga dapat dirujuk, sebagai sebuah kesamaan dengan kekuatan orde baru. dan mungkin kesamaan yang lebih jelas lagi adalah...sama-sama menganut Neoliberal dan sama menjadi antek-antek kekuatan negara asing....

Semoga ini tidak benar…. Kalaupun benar… semoga kekuatan ini tidak akan menang…. Semoga SBY-Berbudi kalah dalam pemilu presiden 2009

Tidak ada komentar: