Senin, 25 Mei 2009

Bisakah Intelejen memenangkan SBY ..?

Seperti dalam pemilu 2004 yang lalu, untuk memenangkan pertarungan di pilpres, SBY sangat bergantung kepada tim intelejen yang bertugas memenangkan SBY melalui operasi-operasi intelegennya. Para jago-jago intelegen tersebut melakukan gerakan-gerakan yang akan membangun citra yang baik atas diri SBY. Nah berikut salah satu aksi Intelegen yang dimotori oleh Sudi silalahi dengan majelis Dzikir SBY Nurussalam.
Senin, 25/05/2009 22:41 WIB

14 Majelis Dzikir Akan Menangkan SBY-Boediono
M. Rizal Maslan - detikPemilu
Jakarta - Sebanyak 14 organisasi Islam yang tergabung dalam Majelis Dzikir SBY Nurussalam mendukung pasangan SBY-Boediono sebagai capres dan cawapres. Mereka bertekad untuk berjuang memenangkan pasangan itu di Pilpres.

"Kami siap berjuang memenangkan pasang SBY-Boediono sebagai capres dan cawapres," kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Majelis Dzikir SBY Nurussalam Haris Thahir saat deklarasi MDZ SBY Nurussalam di Hotel Sahid Jl Sudirman, Jakarta, Senin (25/5) malam.

Menurut Haris, selama pemerintahan dipimpin oleh Presiden SBY, bangsa ini telah mengalami kemajuan di berbagai bidang. Termasuk semakin kondusifnya keamanan di Aceh, Poso, Ambon dan Papua.

Di bidang ekonomi, pertumbuhan ekonomi sangat baik dan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 6 persen. "Masih banyak yang telah dicapai soal pemberantasan korupsi, pendidikan 20 persen, hubungan dengan negara Islam semakin berkembang, baik di dalam dan diluar negeri," jelasnya.

Guna memenangkan pasangan SBY-Boediono, MDZ SBY Nurussalam jajaran pengurusnya mulai tingkat daerah hingga pusat untuk mendukungnya. MDZ SBY Nurussalam juga akan menyiapkan sejumlah saksi di setiap TPS di seluruh Indonesia.
( zal / rdf )

Berdasarkan informasi yang dirangkum dari Majalah Intelejen edisi khusus, edisi 3 / thVI/2009 20 mei -2 Juni 2009 berikut adalah peta tim intelejen yang dimiliki SBY.

Intelejen CIkeas
Formasi Pertama (pemilu presiden 2004) Intelejen cikeas antara lain :
1. Ma’Ruf (mantan Mendagri)
2. M Yasin
3. Widodo adi Sucipto
4. Syamsir Siregar
5. Vence Rumengkang
Didukung tim media oleh : Dahlan Iskan dan Harry Tanoe Sudibyo.
Harry tanoe dikenal mempunyai akses yang kuat di Korea, Cina, Singapura, Hongkong hingga AS, Harry juga memiliki hubungan khusus degnan George Soros.
Soros secara tidak langsung turut mendanai LSM melalui yayasan tifa foundation dan Internasional transparency.
Formasil kedua (setelah SBY memerintah 2004- 2009)
Dominasi intelejen yang menjadi pembisik utama yang mempengaruhi SBY dalam setiap keputusannya adalah Marsilam Simanjuntak.

Cikeas 3 (menjelang pilpres 2009)
1. Widodo AS
2. Syamsir Siregar
3. Sudi Silalahi
4. Taufig Efendi
5. Kurdi Mustafa
6. Djali Yusuf
7. Hadi Utomo
Dan dibentuk beberapa tim seperti Tim Echo, Delta, Foxtrot, India, Romeo dan Bravo.
Tim Echo dikomandoi Djoko Suyanto.

Berikut berita yang menguatkan informasi bahwa SBY menggunakan intelejen untuk memenangkan dirinya
Senin, 25/05/2009 17:44 WIB
Tim Sukses SBY
Operasi Senyap Jadi Andalan Pemenangan
Deden Gunawan - detikPemilu


Jakarta - Sebuah rumah di Jalan Salak nomor 26, Menteng, akhir-akhir ini sering kedatangan purnawirawan tentara dan polisi. Rumah yang disewa sejak awal April lalu itu saat ini menjadi pusat kegiatan relawan Gerakan Pro SBY (GPS).

GPS merupakan salah satu tim relawan untuk memenangkan SBY-Boediono. Diketuai Marsekal Madya (Purn) Surrato Siswodihardjo, kawan dekat SBY, tim ini bertaburkan para jenderal. Selain Surrato juga terdapat nama mantan Kapolri Jenderal Polisi (purn) Sutanto yang menjadi pembina GPS.

Lalu juga mantan Kasum TNI Letjen TNI (Purn) Suyono, mantan Kaster TNI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo, serta Mayjen TNI (Purn) Herman LD. Sedangkan dari kalangan sipil ada nama Menhut MS Kaban, Lili Wahid, Irsyad Sudiro, serta Ahmad Mubarok.

Surrato mengaku, pembentukan relawan GPS merupakan wujud simpati terhadap SBY. Meski demikian aktivitas GPS di luar struktur tim sukses. Dengan kata lain, rantai komando dipegang langsung pengurus GPS.

"Kita tidak mendapat intruksi atau perintah dari SBY atau tim sukses. Karena kita bergerak secara mandiri demi kemenangan SBY," ujar Surrato.

Gerakan GPS terdiri dari dua pola, yakni ada yang terbuka dan tertutup. Sementara sasarannya adalah menggalang dukungan bagi SBY dari kalangan di luar Partai Demokrat (PD) maupun partai pendukung koalisi.

Selain masa golput, kata Surrato, GPS juga bergerak mendekati tokoh-tokoh dari lintas suku, lintas partai, serta lintas agama . "Beberapa hari lalu, kami menjalin hubungan dengan partai-partai lokal di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) untuk memenangkan SBY. Bahkan sejumlah mantan panglima GAM yang kami temui sudah menyatakan siap mendukung SBY," terang Surrato.

Dalam menyasar dukungan, GPS menghindari berbenturan dengan langkah yang dilakukan tim resmi SBY-Boediono. Lembaga yang berdiri 22 April 2009 tersebut, ujar Surrato, lebih banyak mencari "jalan tikus" dalam menggalang dukungan di daerah-daerah.

"Di GPS banyak pensiunan TNI yang paham masalah intelijen dan teritorial. Jadi kami memanfaatkan kemampuan tersebut untuk meraih dukungan bagi SBY," urainya.

Menjelang masa kampanye pilpres, sejumlah relawan pendukung SBY semakin banyak bermunculan. Selain GPS, belum lama ini mantan Ketua Blora Center Jusuf Rizal juga membantu lembaga Presiden Center (PC) sebagai basis pemenangan SBY-Boediono.

Lembaga ini, kata Jusuf Rizal kepada detikcom, merupakan reinkarnasi Blora Center, lembaga pencitraan SBY-JK di Pilpres 2004 silam. "Berdirinya President Center untuk melanjutkan perjuangan Blora Center yang pada Pilpres 2004 mengawal SBY jadi presiden," jelas Direktur PC Jusuf Rizal.

Namun diakuinya, posisi PC tidak sehebat dulu. Kalau di Pemilu 2004, Blora Center menjadi lembaga resmi untuk pencitraan SBY-JK, sekarang tidak lagi. Saat ini PC adalah lembaga independen alias relawan saja.

Pada pemilu 2004, SBY melalui Sudi Silalahi mendirikan sebuah lembaga pencitraan Blora Center yang diketuai Jusuf Rizal. Namun usai pemilu Blora Center retak, Jusuf kemudian mendirikan Lumbung Informasi Rakyat (Lira).

Adapun Sudi Silalahi, pasca vakumnya Blora Center, langsung membentuk Blora Institute yang dipimpin Taufik Rahzen. Rencananya Blora Institut akan dijadikan sebagai think thank pemenangan Pak SBY. Namun belakangan SBY rupanya lebih sreg menggandeng Fox Indonesia, yang kemudian membidani Bravo Media Center (BMC).

Meski demikian, Jusuf mengaku tidak merasa risau. Karena antara jejaring tim sukses punya tugas dan fungsi masing-masing. "Kalau dulu (pilpres) Blora Center didirikan untuk menjelaskan program-program yang akan dijalankan SBY-JK jika menang pilpres. Sekarang PC akan memberi penjelasan kepada masyarakat tentang keberhasilan SBY selama 5 tahun memimpin," ujarnya.

PC, kata Jusuf, juga akan melakukan counter opinion yang menyudutkan pasangan SBY-Boediono. Tim sukses tersebut juga akan menjadi tim task force dan melakukan marketing politik guna memenangkan pasangan tersebut.

Untuk memperkuat jaringan, PC mengklaim diperkuat Sudi Silalahi (Sekretaris Kabinet), Fadel Muhammad, Ketua Harian Partai Demokrat Achmad Mubarok, Prof Djafar Hafsah, KH Abdurachman Al-Habsy, mantan Kababinkum TNI AD, Mayjen TNI (Purn) Arief Siregar, Bagus Ali Junaidy, KH Syech Ali Akbar Marbun, Anggota Komisi III DPR-RI Tri Yulianto, serta Hayono Isman.

Munculnya nama GPS dan PC menambah panjang daftar tim pemenangan SBY yang ada sebelumnya, yakni Tim Echo, Tim Sekoci, Tim Delta, Tim Romeo, Barisan Indonesia atau Barindo, Jaringan Nusantara, dan Yayasan Dzikir SBY Nurussalam.

Namun di antara tim-tim pemenangan SBY, hanya tim sekoci yang bernama Indonesia Bersatu (Indoratu) yang bergerak secara rahasia. Tim sekoci ini mulai berdiri sebelum Pemilu 2004 dan mayoritas anggotanya adalah pensiunan tentara.

Beberapa pensiunan TNI seperti, T.B. Silalahi, Soeprapto, Amir Sembiring, Irvan Edison, dan Max Tamaela, ikut memperkuat tim tersebut. Gerakan mereka lebih banyak memakai pola-pola militer, seperti aktivitas intelijen, teritorial, dan sosial-politik

Sumber detikcom mengatakan, meski tim Indoratu lebih banyak melakukan operasi senyap, namun tim inilah yang justru jadi tulang punggung pemenangan SBY, baik di pilpres 2004 maupun peningkatan suara PD di pileg 2009.

Akankah tim Indoratu bisa mengulang kesuksesannya di Pilpres 2009 dengan mengantarkan SBY ke kursi RI-1 untuk kedua kalinya? Kita tunggu saja.
( ddg / iy )

Persoalannya adalah apakah Pantas sebuah pertarungan pemilu presiden diembel-embeli oleh sebuah operasi intelijen. Relakan bangsa ini menyerahkan nasibnya kepada pemimpin yang menggunakan intelijen untuk memenangkan pertarungan demokrasi...

rela... .....ngak

1 komentar:

Blog Watcher mengatakan...

CAPRES DAN CAWAPRES MULAI SALING SERANG

Hardikan, kecaman, hinaan mulai dilakukan para capres dan cawapres. Tim sukses pun tak mau ketinggalan, mulai melancarkan aksi balasan.

Mendengar kata demi kata aksi tersebut, hati serasa miris jadinya. mereka saling memburukkan, membingungkan saling serang mempertontonkan pola kampanye yang tidak sehat.

Sempitnya fikiran tim sukses pemenangan capres dan cawapres tentang strategi dan karakter calon yang diusung semakin terlihat jelas. Mereka tidak menjelaskan kepada publik apa visi dan misi capres dan cawapresnya. Yang terjadi saling serang, saling memburukkan, debat kusir. Semua yang dilakukan justru akan semakin memperparah keadaan.

Dalam mata khayal, terbayang bagaimana jika budaya saling menyerang ini berimbas ke tingkat bawah. Semua bisa menimbulkan gesekan antar simpatisan calon. Yang kalah akan terjajah, marah, sehingga menimbulkan tawuran antar pendukung.

sumber:http://asyiknyaduniakita.blogspot.com/