Minggu, 07 Desember 2008

Pemerintahaan SBY masih kepanjangan rezim orde baru

Pada masa pemerintahaan rezim Soeharto, kita ketahui bahwa Soeharto mendirikan kekuasaan politik melalui tiga pilar yang disebut jalur ABG, yaitu ABRI, Birokrasi dan Golongan karya. Ketiga pilar tersebut disusupkan kedalam semua sendi kehidupan masyarakat, sehingga kekuasaan yang dimiliki menjadi bertambah kokoh, dengan sangat sulit dipatahkan. Inilah yang mendukung bertahannya kekuasaan yang semena-mena hingga sampai 32 tahun.

Pandangan rakyat diseragaman dengan cara kekerasan, baik dengan menakut-nakuti dan ancaman sebagai kader partai terlarang, bahkan instimidasipun sering dialami para tokoh perjuangan penegakkan demokrasi, termasuk tokoh-tokoh pemuda yang diculik, dan nasibnya sampai saat ini belum diketahui.

Melalui reformasi, kita ketahui bahwa dwifungsi TNI, yang juga berfungsi sebagai kekuatan politik selain kekuatan pertahanan, telah berhasil dipatahkan dengan mengembalikan fungsi TNI yang seharusnya yaitu sebagai lembaga pertahanan, sedangkan fungsi politiknya yang tadinya ikut serta dalam politik praktis, saat ini sudah tidak lagi dipertahankan.

Masih ada 2 kekuatan orde baru yang masih bermain didunia politik dan kepemerintahan. Yaitu birokrasi dan Golongan karya.

Birokrasi yang sudah terbentuk puluhan tahun, walaupun sudah banyak terkikis oleh gerakan reformasi yang dilakukan, tetapi tidak bisa dipungkiri bangsa masih banyak birokrat yang merupakan kelompok penjelmaan dari kekuatan orde baru. Sebenarnya hal ini tidak sulit dibedakan. Yang pasti, jika gaya dan tipe bertindak-tanduknya seperti orde baru, dapat dipastikan bahwa birokrat tersebut merupakan bagian dari kekuatan orde baru yang masih tersisa.

Hal ini sangat dirasakan didunia hukum, yaitu kejaksaan agung. Sikap Jaksa Agung yang menganggap rakyat Indonesia ini hanyalah sekelompok orang bodoh yang dapat dengan mudah ditipu, terlihat jelas dalam penjelasan-penjelasan yang diberikan Jaksa Agung dalam kasus-kasus yang ditanganinya. Penanganan kasus BLBI yang sepertinya diulur-ulur dan dipersulit agar tidak terungkap memperlihatkan bahwa birokrat ini merupakan bagian dari kekuatan orde baru. Perlindungan terhadap 3 jaksa yang mungkin terlibat dalam kasus suap yang dilakukan oleh arthalita dan Urip, memperlihatkan tingkat laku rezim orde baru yang sering menipu dan membodohi rakyat.

Kasus sengketa hak tagih PT Timor Putra Nusantara yang melibatkan PT. Vista Bella Pratama, PT. Amazonas Ltd dan kompromi yang dilakukan oleh Menteri Keuangan juga sangat jelas memperlihatkan bahwa birokrat ini memiliki hubungan yang kuat dengan rezim Soeharto. Karena kita jelas mengetahui bahwa kasus ini secara nyata merupakan kasus yang melibatkan Tommy Soeharto.

Selain contoh diatas, masih banyak lagi contoh-contoh yang memperlihatkan bahwa pemerintahaan SBY-JK yang diwakili oleh Birokratnya merupakan kelanjutan dari pemerintahan kekuasaan Soeharto.

Golongan karya yang sempat direformasi oleh Akbar Tandjung dengan memperlihatkan kehidupan partai politik yang penuh dengan demokrasi, perpindahaan kekuasaan dari Akbar Tandjung ke JK dan cara JK dalam memimpin partai tersebut memperlihatkan kembalinya tata-cara dan budaya organisasi asli yang dimiliki oleh partai golongan karya, dimana pemimpin tidak bisa dibantah, dikritisi ataupun diberikan masukan. Keputusan sudah dibuat, yang ada hanyalah pengumuman dari hasil keputusan tersebut.

Sementara SBY yang merupakan kader TNI, tentu saja memiliki hubungan yang sangat dekat dengan rezim orde baru, baik secara lembaga melalui partai Demokrat yang didirikannya ataupun secara pribadi dan personal dengan Soeharto. SBY bukanlah orang jauh dari Soeharto. Selain kader TNI yang mungkin saja sudah disiapkan dari jauh-jauh hari, dapat kita ketahui bahwa SBY merupakan mantu dan salah satu anak buah Soeharto pada tahun 1965, yaitu operasi yang katanya penumpasan Gerakan dari partai terlarang. Sudah jelas sekali bahwa hubungan dua keluarga ini sangat dekat.

Jadi jangan heran, kalau tingkah laku dan kebijaksaaan yang dilakukan dimasa pemerintahan SBY-JK ini sebenarnya masih dijiwai oleh semangat atau kondisi pemerintahaan orde baru rezim Soeharto. Terlepas dari hal itu, kita harus mengakui, bahwa SBY sebagai tokoh presiden telah berusaha melakukan perbaikan yang luar biasa, sampai mengorbankan sang besan untuk menghuni hotel prodeo. Tentu kita harus angkat topi untuk hal ini. Tetapi dibalik itu, kita juga tahu kalau hal ini dilakukan tentu saja oleh dorongan-dorongan yang diberikan oleh rakyat dan pemimpin politik lainnya untuk mengarahkan SBY kejalan yang benar.

Tetapi karena memang SBY dan JK merupakan penjelmaan dari pemerintahan Orde Baru, kita sebaiknya tidak berharap banyak kepada keduanya. Memang caranya berbeda, tetapi ideologinya sama yaitu memanipulasi pendapat rakyat.

Kita tunggu apakah SBY bisa menuntaskan pekerjaannya dengan sempurna, tanpa pilih kasih atau tebang pilih, tetapi menciptakan bola saju pemberantasan korupsi , yang akan menggulung semua pelaku korupsi, baik dimasa kini, dimasa yang akan datang termasuk dimasa lalu. Semuanya harus digulung dan diungkapkan, karena kerugian negara yang diakibatkan oleh para koruptor dan kroni Soeharto sangat luar biasa, menghancurkan kehidupan bangsa ini, yang berakibat terpuruknya sebuah bangsa yang kaya raya menjadi bangsa miskin.

Bagaimana menurut anda dalam bersikap terhadap SBY-JK ?

Tidak ada komentar: