Minggu, 30 November 2008

Logika berpikir yang tidak masuk dalam logika

Bangsa ini sudah dalam kondisi dekandensi moral yang luar biasa. kalau berbicara soal dekandensi moral, banyak diantara kita yang mengarahkan tudingan kepada kaum remaja, anak muda yang baru beralih dari usia balita mengarah kedewasa. dekandensi moral juga seringkali dikaitkan dengan kebebasan sex yang dianggap sebagai sesuatu yang sudah biasa.
tetapi yang akan dibicarakan disini bukanlah semua itu, bukan remaja, bukan kelompok yang selalu dijadikan kambing hitam kalau terjadi suatu permasalahan. melainkan dekandensi moral yang terjadi diseluruh bangsa ini, mulai dari tingkatan paling tinggi sampai kebawah. diseluruh lini kehidupan ini, para birokrat sudah kehilangan rasa etis dan tidak etis dalam melakukan sebuah keputusan atau kebijakan.
Contoh aktual yang terjadi setelah pemilu 2004 selesai dilakukan, Hamid Awaluddin yang saat itu menjadi salah satu anggota KPU, diangkat oleh SBY-JK menjadi salah satu anggota kabinet. tentu saja hal ini tidak ada dapat melakukan protes, karena kalaupun diprotes, tidak memiliki dasar hukum yang kuat untuk melakukannya. sesuai dengan hukum, pengangkatan seorang anggota kabinet merupakan hak preogratif presiden. dimana presiden terpilih memiliki hak untuk mengangkat siapa saja menjadi anggota kabinet. termasuk Hamid Awaluddin. secara moral dan etika profesi serta jabatan, tidaklah etis seorang anggota KPU yang merupakan wasit dalam pemilu yang dilakukan untuk memilih Presiden, kemudian dianggkat menjadi anggota kabinet. hal ini bisa saja menimbulkan persepsi yang tidak baik. bisa saja sang wasit dianggap telah melakukan deal awal dengan SBY JK, jika nanti berhasil menjadi pemenang, maka si Hamid ini didudukan sebagai salah satu anggota kabinet.
Hal yang sama juga terjadi dengan anggota KPU lainnya, Anas Urbaningrum, yang lolos dari kasus korupsi yang menyeret Ketua KPU Nazaruddin menjadi penghuni bui. Anas malah sekarang menjadi salah satu Pimpinan Partai Demokrat, partai yang berhasil mengusung SBY-JK menjadi pemenang pemilu 2004. persepsi negatif yang dapat timbul adalah, bisa saja diduga kalau Anas sebagai salah seorang wasit dalam pemilu 2004 telah melakukan negosiasi dengan SBY, dengan imbalan kemenangan SBY-JK.
Walaupun persepsi dan dugaan-dugaan tersebut tidak dapat dibuktikan, tetapi karena ini menyangkut moral dan etika jabatan, walaupun hal tersebut tidak dilakukan penindakan hukum, malah berakibat lebih fatal lagi. yaitu dugaan-dugaan yang tidak mendapatkan pembuktian tersebut menjadi sesuatu yang biasa. sehingga berbuat tidak etis merupakan sesuatu yang sudah biasa dan boleh-boleh saja, seperti perlakukan sex bebas yang sering dibicarakan.
Lain lagi yang menimpa Jaksa Urip, yang merupakan aparat penegak hukum yang seharusnya bertugas menegakan hukum, malah menjadi biang dari kerusakaan hukum. ditambah lagi para rekan-rekannya yang diduga terlibat dalam kasus ini, kemudian hanya dicopot dari jabatan dan dinyatakan bersih dari keterlibatan dalam kasus ini. kalau para penyidik KPK, kehakiman dan aparat hukum lainnya, membebaskan ketiga orang tersebut, timbulah ketidak percayaan rakyat kepada hukum. hukum hanya sebagai perangkat hiasan semata, yang berlaku pada rakyat biasa dan tidak berlaku terhadap petugas (seperti tulisan " dilarang masuk, selain petugas").
Hanya demi menyelamatkan segelintir orang, rusaklah bangsa ini satu generasi, bahkan bisa bergenerasi-generasi. Itulah sebabnya Reformasi yang sudah bergulir selama lebih dari 10 tahun ini tidak menunjukan hasil yang signifikan bagi kesejahteraaan rakyat. selain memang sedang terjadi krisis global, tetapi hilangnya etika dan etis jabatan yang memutar balikkan logika berfikir rasional.
kapankan negeri ini akan berubah menjadi negeri yang bersih, sejahtera ?
Tindakan PKS memasang SOeharto sebagai salah satu Pahlawan juga merupakan pemutar balikan logika.
bagaimana menurut anda ? apakah anda ikut menjadi personal yang tidak etis dan suka memutar balikan logika berpikir, dan membenarkan apa yang menjadi kepentingan anda dan menyalahkan hal bertentangan dengan kepentingan pribadi anda.
salam reformasi atau repotnasi.... terserah anda

Tidak ada komentar: