Selasa, 04 November 2008

Dimanakan Dewi keadilan berada ?

Gadih manjo nampak bekerja tidak semangat. Harapannya untuk diangkat sebagai karyawan tetap setelah bekerja di Bank swasta ini selama lebih dari 1 tahun tidak terwujudkan. Sebenarnya peluang yang pupus itu barulah menjadi calon karyawan tetap. Walaupun hanya sebagai calon karyawan tetap, Gadih manjo sangat berharap hal itu bisa terwujud.

Bu Bos tadi pagi memanggil, untuk menginformasikan bahwa keputusan pengangkatannya sebagai calon karyawan tetap ditolak oleh personalia. Banyak alasan yang disampaikan Bu Bos, tetapi tak satupun yang nyakut dalam pikirannya. Yang berkecamuk dalam dadanya hanyalah kekecewaan dan kekecewaan.

Upah harian yang diterimanya selama setahun ini, tidaklah cukup untuk biaya makan siang dan transportasi menuju dan pulang kantor. Upah itu masih dibawah Upah Minimum Regional yang ditetapkan oleh Depnaker. Kenapa pula bisa seperti itu yah, kemana pemerintah, Depnaker dan pada pejuang buruh. Memang status Gadih manjo pada perusahaan PMA itu hanyalah sebagai tenaga honorer yang dipekerjakan dengan sistem outsourcing. Tetapi bukan kekurangan upah itu yang jadi persoalan baginya.

Keadilan, itulah masalahnya. Dua bulan yang lalu Gadih tangka kegirangan menghampiri dirinya dengan membawa berita tentang pengangkatanya sebagai karyawan tetap. Gadih tangka sudah setahun bekerja dengan status calon karyawan tetap. Nah pada hari yang bahagia itu statusnya berubah menjadi karyawan tetap tap. Kalau menurut pandangan Gadih manjo, kemampuan Gadih tangka dalam mengerjakan tugas masih dibawah dirinya. Gadihtangka belum bisa mengunakan sistem AS 400 yang dipergunakan bank itu, Gadih tangka juga belum bisa mengolah data dengan aplikasi excel seperti dirinya. Dan loading pekerjaan yang dikerjakan setiap hari oleh Gadih tangka, hanya sekitar 50 persen dari pekerjaan yang menjadi tanggung jawab Gadih manjo, malahan dalam banyak pekerjaannya Gadih tangka banyak bertanya dan minta petunjuk dari Gadih manjo.(gak malu yah, nanya sama yang gajinya lebih rendah).

Alasan keadilan ini jugalah yang dijadikan dasar oleh buyung lebe untuk pindah berusaha mencari, melamar keperusahaan lain dengan semangatnya. Yang pada akhirnya membuahkan hasil. Buyung lebe juga merasakan hal yang sama, loading pekerjaan lebih berat, tanggung jawab lebih berat, gaji lebih kecil dan selalu disalahkan, menjadi kambing hitam merupakan status tepatnya. Berlawanan dengan yang dirasakan oleh Ujang maleh. Selalu dipuji, pekerjaan enteng, tanggung jawab gak ada, dan malah pada saat penilaian akhir tahun kemaren, ujang maleh mendapatkan nilai very good dari mandeh gadang. Nilai yang mungkin akan diperoleh hanya 1 dari seluruh karyawan diperusahaan itu.

Gadihlambah juga merasakah hal yang sama, dirinya baru diangkat sebagai karyawan tetap setelah berstatus calon karyawan tetap selama 2 tahun. Sedangkan Gadih tangka dan Ujang maleh hanya 1 tahun. Kegundahan gadih manjo bercampur aduk dengan rasa iri yang timbul didada Gadihlambah.

Tapi, kalau Gadihlambah mencoba berpikir secara jernih, itu semua bukanlah kesalahan ujang maleh, bukan kelalaian Gadih tangka. Tetapi itu semua sudah diatur oleh yang punya jiwa ini, yaitu ALLAH. Siapa yang suruh Gadihlambah bergabung di perusahaan ini pada saat adanya peraturan dan kebijaksanaan tidak adanya pengangkatan karyawan tetap. Kenapa gak tunggu setahun, baru masuk berbarengan sama ujang maleh dan Gadih tangka. Pasti Gadihlambah juga akan hanya mengalami status calon karyawan tetap selama hanya 1 tahun. Rasa iri didada ini sirna seketika, setelah merenung sebentaran saja.

Yang menjadi persoalan lagi adalah, bagaimana dengan yang terjadi dengan Gadih manjo dan buyung lebe. Gaji lebih kecil, tanggung jawab lebih tinggi, penilaian atas pekerjaan yang tidak fair, kemampuan yang lebih tinggi.

Nah kalau yang ini, mungkin ada beberapa faktor, selain karena adanya faktor ALLAH bekerja disini, secara profesional dapat diambil kesimpulan bahwa sistem kepersonaliaan didalam perusahaan ini sangat ancur. HRD tidak dapat menilai dan menempatkan karyawan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, sehingga penilaian menjadi tidak fair.

Ini juga terjadi dinegeri ini, kenaikan BBM yang berdampak sangat luar biasa bagi rakyat kecil, hanya dibayar dengan BLT. Nah saat terjadi penurunan harga BBM dunia, harga penjualan BBM didalam negeri belum diturunkan. Kata penguasa Bappenas sih, masih dalam perhitungan. Dan kemungkinan penurunannya tidak akan bisa sebesar kenaikan yang pernah dilakukan, maksudnya tidak bisa kembali keharga sebelum kenaikan itu. Walaupun mungkin harga BBM dunia saat ini lebih rendah dari harga BBM pada saat sebelum kenaikan itu dilakukan. Nah yang menjadi kambing hitamnya adalah BLT, Bappenas bilang, beban BLT itu masih membebani penurunan BBM saat ini, jadi belum bisa turun dan kalaupun turun tidak besar, mungkin nanti awal tahun 2009 bisa diturunkan sedikit, ...

Itulah keadilan, pada saat harga BBM naik, rakyat kecil tercekik, pada saat harga BBM dunia turun, rakyat kecil jadi kambing hitam.

Dimana keadilan itu, siapa yang menyembunyikan keadilan itu, apakah memang keadilan sudah hilang dari negeri ini, atau sudah lenyap dari bumi pertiwi ini. Ditelan sang rakus , yang tak mau berbagi pada sang fakir, fakir kuasa dan harta.

Nah Gadihlambah berpesan,
jangan pilih partai yang menggagas sistem Outsoucing,
Jangan pilih partai yang tidak menegakkan keadilan,
Jangan pilih pemimpin yang sikapnya rakus kuasa dan harta
Jangan pilih pemimpin yang mengandalkan harta dan nama
Jangan pilih ini, jangan pilih itu, lantas milih sapa dong



Tidak ada komentar: