Senin, 20 Oktober 2008

Lulusan Militer menjadi capres

Setelah masa reformasi, militer tidak lagi memiliki perwakilan di Dewan Perwakilan Rakyat. Pada masa Pak Harto, walaupun militer hanya digunakan untuk menopang kekuasaan yang dimilikinya, pada dasarnya militer ikut berpartisipasi sekarang langsung menjadi praktisi didalam perpolitikan indonesia. Dengan alasan untuk menegakkan demokrasilah makanya militer disingkirkan dari senayan.
Setelah turunnya Soeharto dari kepresidenan, ada beberapa presiden yang berasal dari non militer, diantaranya adalah BJ Habiebie, Gus Dur dan Megawati. Masa-masa itu walaupun dengan dalihnya adalah masa peralihan, tetapi sangat dirasakan ketidak stabilan roda pemerintahaan dan banyaknya mis managemen dalam penangaan masalah kenegaraan.
Pada masa Habibielah Timor Timur lepas dari Indonesia. Gus Dur diturunkan oleh MPR yang mengangkatnya, kemudian digantikan oleh Megawati. Pada masa Megawatilah penjualan besar-besaran aset-aset negara ini dilakukan, seperti penjualah Indosat . Selain itu juga masih banyak proyek-proyek yang merugikan negara terjadi seperti kasus penjualan Gas Tangguh.
Pada masa SBY memerintah, dapat dikatakan bahwa stabilitas nasional terjaga, walaupun memang alam banyak melakukan penolakkan diawal pemerintahaannya, yang ditandai dengan banyaknya bencana yang menimpa negeri ini, seperti Tsunami di Aceh dan gempa bumi di Yogyakarta, tetapi semua itu seperti menjadi sarana untuk selalu mengingatkan sang pemimpin untuk tetap berada diatas track yang benar. Bahkan alam sepertinya mengirimkan suatu pesan kepada SBY melalui bencana lumpur lapindo, entah apa pesan yang diterima oleh SBY, tentu saja hanya beliau yang tahu persis, tergantung persepsi dan sudut pandangnya. Tetapi nampak SBY merespon secara positif seluruh pesan-pesan yang disampaikan alam kepadanya, termasuk bencana krisis global yang menyerang dan akan dirasakan di Indonesia dalam 3 bulan mendatang, kalau kita tidak melakukan apa-apa kata salah satu politisi dilayar tv. Secara umum pemerintahan SBY boleh dikatakan memiliki nilai lebih dibandingkan pendahulunya diera reformasi.
Yang menjadi sorotannya adalah, apakah memang karena figur SBY secara pribadi yang menjadi dasar keberhasilan itu, ataukan latar belakangnya sebagai militer yang mensupport hal itu. Karena seperti disampaikan diatas, seluruh presiden pendahulunya dimasa reformasi, berasal dari Non Militer.
Mungkin, oleh karena itu juga yang mendorong para lulusan militer yang sudah purnawirawan tetapi masih dalam usia produktif, memiliki niat dan ambisi untuk mendaftar menjadi presiden, baik dengan menggunakan Bendera Partai maupun melalui jalur independen. Dari jalur partai saja sudah ada beberapa nama yang beredar, seperti SBY, Wiranto, Prabowo dan Sutiyoso, sedangkan dari jalur independen juga terdapat beberapa nama.
Kita sebagai rakyat harusnya lebih memberikan kesempatan kepada seluruh kader bangsa ini untuk mencalonkan dirinya sebagai presiden Indonesia berikutnya. Karena semakin banyak calon yang maju, maka semakin banyak pilihan. Baik bagi yang berasal dari militer maupun yang non militer. Tinggal bagaimana rakyat dapat mempercayai para calon-calon yang sudah berkampanye melalui seluruh media, baik elektronik, cetak ataupun media. Rakyat Indonesia bukanlah rakyat bodoh yang tidak dapat menilai mana pemimpin yang berjuang untuk rakyat dan mana yang hanya mementingkan kepentingan diri sendiri.
Kalau menurut anda bagaimana ? siapakah diantara calon presiden itu yang akan anda Pilih ? dan apa kriteria dan dasar pemikirannya ?

Tidak ada komentar: