Selasa, 23 September 2008

Antasari Azhar konsisten dalam pemberantasan korupsi

Komisi Pemberantas Korupsi pimpinan Antasari Azhar mendapat sorotan tajam belakang ini. Keragu-raguan dalam mengungkap aliran dana Bank Indonesia yang melibatkan mantan petinggi yang juga merupakan tokoh yang dekat dengan istana seperti melunturkan prestasi yang telah diukir dengan pembongkaran kasus-kasus besar seperti kasus Jaksa Urip dan Artalyta.

Dalam kondisi ini, KPK tetap konsisten untuk berusaha mengungkapkan kasus-kasus korupsi. Hal ini terbukti dengan diungkapnya kasus suap di Badan pemantau persaingan usaha. Selain itu, rencana pengambil alihan kasus BLBI dari kejaksaan agung kembali membuktikan bahwa lembaga ini tetap konsisten dalam pengungkapan dan penyelesaian kasus-kasus korupsi yang jadi tanggung jawabnya.

Setelah lebaran nanti, KPK menjanjikan akan melakukan ekspos kasus BLBI. Mari kita tunggu hadiah lebaran dari lembaga ini. Mudah-mudahan merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi bangsa ini.

Yang harus diperhatikan adalah, walaupun kita yakin dengan integritas lembaga ini, baik integritas Antasari Azhar sebagai pimpinannya, maupun anggota tim lainnya yang ada dalam lembaga ini. Kita sebagai masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mendorong agar KPK dapat melakukan tugasnya sebaik-baiknya. Karena kecenderungan dari bangsa Indonesia yang masih belajar dalam penegakkan hukum yang adil, terlihat bahwa dorongan masyarakat sangat berperan dalam mendorong terlaksanaanya keinginan rakyat banyak. Turunnya Soeharto merupakan salah satu contoh dorongan yang dilakukan Mahasiswa untuk mendorong DPR dan MPR saat itu untuk melakukan permintaan agar Soeharto turun dari jabatannya.

Tetapi setelah kejadian tahun 1998 itu, dorongan mahasiswa tidaklah segencar seperti saat itu. Apakah karena tokoh-tokoh mahasiswa yang berperan sudah mendapatkan posisi aman, sehingga tidak memiliki kepentingan untuk melakukan dorongan kepada lembaga-lembaga negara untuk melakukan tugasnya sebaik-baiknya.

Contoh yang paling aktual adalah kejadian yang ada di kejaksaan agung. Kasus suap dilembaga ini, dan tarik ulur kasus BLBI serta kasus SP3 kasus Tommy Soeharto tidak mendorong masyarakat secara umum untuk meminta Jaksa Agung untuk mundur dari jabatannya. Walaupun itu merupakan hak preogratif presiden, tetapi ketidak becusan dalam melaksanakan tugasnya itu, sebenarnya harus diminta pertanggung jawabannya.

karena tidak becus menyelesaikan kasus BLBI, kemudian dialihkan kepada KPK, dan memperlihatkan bahwa Kejaksaan Agung tidak melakukan fungsinya. Kalau memang tidak diperlukan, lebih baik lembaga ini dibubarkan atau minimal pejabat-pejabatnya diregenerasikan dengan menawarkan program pensiun muda. Dudukan tokoh-tokoh muda yang memiliki track record yang baik untuk menggantikannya. Kalau memang tidak ada, angkat saja para sarjana-sarjana hukum yang belum terkontaminasi mafia peradilan, yang mungkin diperoleh dari lembaga swadaya masyarakat yang telah melakukan pegawasan terhadap lembaga ini.

Tetapi, apakah memang sudah tidak ada jaksa yang bersih dinegeri ini ?

2 komentar:

Anonim mengatakan...

selamat idul fitri 1429H, mohon maaf lahir & bathin yaaa.. ^_^

Gadih Lambah Anti Koruptor mengatakan...

mohon maaf lahir batin Kang deny